Drone Bawah Laut, Mata-mata Tanpa Awak

Drone Bawah Laut, Mata-mata Tanpa Awak

Penemuan drone asing di bawah Laut Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia saat ini sedang jadi perhatian khalayak.

Bukan hanya ramai dibicarakan di Indonesia, media asing asal Inggris mengulas penemuan drone asing itu.

Drone Bawah Laut, Mata-mata Tanpa Awak

Media Inggris The Guardian, menyorot penemuan drone bawah laut yang disebutkan seaglider itu dengan informasi dengan judul “Indonesian fisher finds drone submarine on possible covert mission”.

Baca Juga: Pendorong Perkembangan Ekonomi di Indonesia

Diterbitkan pada 31 Desember 2020 lalu, The Guardian dalam informasinya tuliskan jika “Seorang nelayan Indonesia sudah mendapati, apa yang menurut beberapa pakar kemungkinan ialah drone bawah laut China di perairan pada jalur maritim vital dari Laut China Selatan ke Australia”.

Disamping itu, media Inggris itu mencuplik opini dari pemerhati militer yang mengatakan jika pesawat tidak berawak itu ialah Sea Wing UUV China (atau Haiyi).

Info mengenai arus dan arah pergerakan dikirim secara real time,” begitu cuplikan dalam laporan The Guardian.

  1. UUVRON 1, unit militer Angkatan Laut AS yang bertanggungjawab pada bagian pemakaian drone

Pad 2017, Angkatan Laut AS membuat unit operasionalisasi drone bawah laut pertama. Unit itu dinamakan “Unmanned Undersea Vehicles Squadron ONE” (UUVRON-1). Hal itu karena Angkatan Laut AS mengetahui pemakaian drone bawah laut yang telah meliputi semua sektor, dari riset sains sampai pemantauan militer.

Gambar di atas memperlihatkan drone namanya “King Fish”. Dengan tehnologi sonar, King Fish bisa menyisir perairan dari ranjau air dan beberapa benda beresiko yang lain baik di atas atau di landasan laut.

  1. Program Manta Ray dari DARPA cari drone super besar yang dapat segala hal sendiri!

Didukung Defense Advanced Research Projects Agen (DARPA), program “Manta Ray” mempunyai tujuan untuk bikin unmanned undersea vehicle (UUV) yang tidak membutuhkan perawatan dan logistik berawak. Dengan demikian, operasi bawah laut dengan Manta Ray tidak mengusik operasi laut yang lain.

DARPA memberi syarat-syarat mutlak Manta Ray, yakni:

  • Teknik manajemen energi baru untuk operasi UUV dan tehnik pengisian energi bawah laut pada kedalaman tertentu
  • Sistem propulsi bawah laut memiliki daya rendah dan berefisiensi tinggi
  • Peralatan diagnosis bawah air baru memiliki daya rendah dan kategorisasi bahaya, atau mekanisme balasan pada diagnosis teror
  • Manajemen visi untuk periode waktu panjang dengan mempertimbangkan lingkungan maritim yang aktif
  • Pendekatan unik untuk menggunakan kelompok data maritim dan memakai patokan maritim baru untuk navigasi
  • Pendekatan baru untuk kurangi biofouling (materi hidup yang melekat ke tubuh UUV), korosi, dan kemunduran materi yang lain untuk visi periode panjang
  1. Seperti namanya, Mantabot serupa dengan ikan pari

Adopsi design ikan Cownose manta ray yang menawan dan efektif, beberapa periset dari University of Virginia pada 2012 membuat “Mantabot” yang didukung oleh Angkatan Laut AS. Body Mantabot memakai bahan plastik, sesaat siripnya yang memiliki bahan silikon bisa bergerak bebas di bawah air secara efektif.

Dari sisi tehnis, Mantabot mempunyai camera memiliki resolusi tinggi untuk mengirim gambar pada pusat kendalian, dan sensor pada bodynya hingga bisa menjaga style renangnya. Disamping itu, sekali isi daya, Mantabot bisa berenang sampai 5 km!

Secara saintifik, arah khusus pengerjaan Mantabot untuk alat ambil contoh bawah laut, sesaat secara militer, Mantabot akan ditugaskan untuk memantau kondisi perairan. Disamping itu, Mantabot juga bisa dipakai untuk mengawasi wilayah laut dari pencemaran. Dengan memiliki bentuk yang seperti ikan yang lain, karena itu biota laut juga tidak akan berasa depresi!

  1. Nasib kapal selam adanya drone

Dengan ramainya perubahan drone bawah laut, satu industri juga terancam, yakni kapal selam! Pada 2016, Parlemen Inggris juga diperhadapkan dengan opsi untuk memodernisasi Trident, program penangkal nuklir Inggris, atau dibubarkan saja.

Disamping itu, bermacam laporan juga menjelaskan jika kehadiran drone yang makin tumbuh subur di perairan malah membuat kapal selam mudah diketahui. Karena itu, kapal selam kehilangan nilainya sebagai senjata bawah air vital. Untuk beberapa negara, kapal selam penangkal nuklir adalah kunci pertahanan negara.

Memang, memperbandingkan kapal selam yang sophisticated dengan drone yang mini memang tidak apple-to-apple. Menurutmu, apa memang drone bisa satu saat geser kapal selam sebagai senjata vital?

  1. Ganti kapal jadi drone, CARACaS entengkan pekerjaan Angkatan Laut AS!

Pada 2014, Angkatan Laut AS meningkatkan mekanisme nirawak yang bisa dikontrol dari jauh untuk menjaga kapal dan menggempur kapal lawan. Saat diuji juga, mekanisme ini sanggup mengetahui kapal asing dan langsung mengerubunginya!

Dengan kontribusi NASA, tehnologi nirawak ini dinamakan “Control Architecture for Robotic Agent Command and Sensing” (CARACaS). Di-install pada kapal, karena itu kapal itu bisa bergerak sendiri! Angkatan Laut AS mengharap dengan CARACaS, personil militer tak perlu masuk ke dalam bahaya.

Namun, bila kapal itu terserang, karena itu sudah pasti harus ada awak yang menolong serang balik.

  1. CoCoRo, kelompok drone bawah laut untuk kerjakan riset bersama

Ditingkatkan di Eropa pada 2011-2014, project Collective Cognitive Robotics (CoCoRo) mengikutsertakan seputar 41 AUV! Sekitar itu, drone yang turut serta dalam project CoCoRo rupanya bisa dikontrol secara bertepatan. Dari project itu, ada tiga mekanisme drone CoCoRo yang populer:

  • Jeff: Bekerja menyisir landasan perairan.
  • Lily: Bekerja mengantar info dari Jeff ke drone pusat kendalian.
  • Pusat kendalian: Mengapung di atas air dan bekerja sebagai basis Jeff dan Lily, sekalian mengirim info dari ke-2 drone ke periset yang ada di dataran.

Ke-3 drone itu berbicara memakai lampu LED, WLAN, dan medan elektrik. CoCoRo ditarget agar bisa isi dayanya secara berdikari! Dengan algoritma khusus, Jeff, Lily, dan pusat kendalian bisa lakukan pekerjaan bersama.

  1. Drone yang mengetahui plankton

Rutinitas kembang biak plankton di bawah laut ialah sebuah peristiwa ilmiah yang sering dicari oleh beberapa periset. Sebab mustahil datang secara fisik, karena itu beberapa periset “mengutus” drone untuk memperhatikannya. Itu yang dilaksanakan oleh University of California San Diego (UCSD) pada 2017.

Mengirim studinya ke jurnal Nature, beberapa periset UCSD mengirim 16 drone sebesar buah limau gedang (grapefruit) yang mengikuti style renang plankton dan diprogram untuk menyelam sedalam 10 mtr. di perairan California. Dari hasil riset itu ialah penskalaan gelombang yang memperlihatkan perkembangbiakan plankton.

  1. EVE, Google Maps untuk laut

Lautan memimpin planet Bumi sampai 70 %. Namun, kok manusia lebih tahu masalah Bulan dibanding laut?! Karena itu, pada 2015, Hydroswarm di Massachusetts meningkatkan drone yang bisa memetakan laut seperti Google Maps di handphone-mu.

Sampriti Bhattacharyya, insinyur teknisi alumnus Massachusetts Institute of Technology (MIT), ialah figur wanita dibalik peningkatan Ellipsoidal Vehicle for Exploration (EVE). Berupa bola kuning, EVE ialah drone yang bekerja memetakan sekalian memantau perairan dari pencemaran dan aktivitas ilegal.

Berlainan dengan drone yang lain yang dikontrol dari jauh, EVE bekerja sendiri. Karena itu, EVE tambah murah dan bisa dipakai di teritori yang lebih luas! Dari curahan minyak sampai cari kotak hitam pesawat, EVE bisa melakukan.

  1. Project VAMOS membuat penambangan bawah laut menjadi lebih efektif

Tak perlu kembali manusia menaruhkan nyawa menambang di kedalaman berlebihan. Pada Oktober 2017, konsorsium yang didukung Uni Eropa, Viable Alternatif Mine Operating Sistem (VAMOS), melangsungkan eksperimen pemakaian drone untuk menambang mineral di situs tambang di perairan Devon, Inggris.

Situs tambang di bawah air umumnya harus dipompa terlebih dahulu supaya bisa ditambang. Tetapi, sebab habiskan ongkos dan resikonya besar, karena itu tambang itu ditinggal hingga terbenam. Karena itu, dengan VAMOS, karena itu penambangan di tambang bawah air lebih gampang, dibanding pilihan buka tambang baru yang menghancurkan lingkungan.

  1. Drone yang mengecek air di bawah susunan es

Tidak cuma ke perairan terdalam, drone juga bisa dipakai ke perairan terdingin di Antarktika. Pada 2015, beberapa periset Denmark dari Aarhus University meningkatkan drone untuk mencari perairan di bawah susunan es dan mempelajari perubahan ekosistem ganggang yang melekat di bawahnya.

Beberapa periset kerahkan sebuah drone berupa torpedo dari lubang yang sudah dipotong di susunan es. Diperlengkapi dengan radiometer, drone itu bisa menghitung sinar yang diserap oleh gumpalan ganggang es yang tumbuh di landasan susunan es. Dengan demikian, beberapa periset bisa memprediksi keseluruhan ganggang yang tumbuh, sumber makanan dasar untuk ekosistem di bawah susunan es.

  1. Project Recover memakai drone untuk mendapati bongkahan kapal PD2

Cukup banyak personil militer AS yang raib (MIA) sebab Perang Dunia II (PD2). Karena itu, bermacam usaha juga dilaksanakan untuk mendapati mereka. Diawali semenjak 1990an, project BentProp sudah pulangkan minimal 30 pesawat tempur AS dan 100 personil yang dahulunya MIA.

Pada 2012, Scripps Institution of Oceanography, UCSD, dan University of Delaware bersama membangun project Recover dengan visi yang serupa. Enam tahun selanjutnya, project BentProp berpadu dengan project Recover. Dengan drone yang diberi tehnologi terbaru, penelusuran project Recover semakin lebih gampang dan efisien.

Selama ini, projek Recover sudah menuntaskan lebih dari 60 visi. Berikut salh satu rekaman visi project Recover pada 2017 dalam mendapati pesawat bomber B-25 di Papua Nugini. Sebatas info, pesawat itu telah raib nyaris 75 tahun!