Jenis Drone Bawah Laut di Dunia

Jago Berenang, Jenis Drone Bawah Laut di Dunia

Siapakah yang tidak paham drone? Dengan adanya berbagai jenis drone bawah laut yang tahan penekanan yang mungkin sudah banyak di ketahui.

Jenis Drone Bawah Laut di Dunia

Jenis drone bawah laut atau remote-operated underwater vehicle (ROV) bisa mencapai kedalaman yang bahkan juga mematikan untuk badan manusia.

Baca Juga: Handphone dengan Chipset Snapdragon 720G

Ingin tahu ada berapakah tipe? Berikut  adalah jenis drone bawah laut yang berada di dunia.

  1. Drone untuk cari bangkai kapal di landasan laut

Pada 1985, USS Knorr dari sisi riset Angkatan Laut AS pergi untuk mempelajari bangkai kapal RMS Titanic yang terbenam pada 1912 dengan mengeluarkan team 2 drone bawah air:

  • Argo: Mekanisme pencitraan berbasiskan camera TV dan sonar yang menolong mengetahui kehadiran bangkai Titanic.
  • ANGUS (Acoustically Navigated Geological Underwater Survey): Mekanisme penelusuran nirawak yang digunakan untuk cari bangkai Titanic. Memiliki bahan besi, ANGUS bisa bertahan sampai kedalaman lebih dari 6 km!

Saat sebelum mendapati Titanic, team itu sudah mendapati bangkai kapal selam bertenaga nuklir AS, USS Scorpion. Satu tahun selanjutnya, team itu naiki USS Atlantis II kembali pada bangkai Titanic. Kecuali ANGUS, team itu bawa bersama:

  • Deep submergence vehicle (DSV) Alvin: Bawa 3 orang, dua periset satu sopir untuk menyelam sepanjang 8 jam bolak balik.
  • Jason Jr: ROV yang dipakai untuk menelusuri bangkai kapal Titanic
  • ANGUS

Cuman ANGUS yang turut dibawa dalam dua operasi penelusuran itu.

  1. Drone untuk bersihkan curahan minyak

Pada kejadian curahan minyak bumi pada 20 April 2010 di Teluk Meksiko, anjungan Deepwater Horizon meledak dan terbenam 2 hari setelah itu. Sebab sumur minyaknya di kedalaman 1,6 km masih muncrat, karena itu kejadian itu dipanggil sebagai curahan minyak ke laut paling besar dalam riwayat umat manusia.

Beberapa minggu sesudah kejadian itu, lusinan drone juga terjun untuk membersihkannya. Dengan kabel yang dipasang di rangkanya, drone-drone itu juga dibuat agar menyelam dan masih terhubung dengan kapal. Disamping itu, drone itu juga diperlengkapi dengan alat pengukuran penekanan, kompas dan sonar Doppler yang lebih canggih supaya tidak salah jalan.

  1. Drone untuk temani aktivitas menyelam, tak perlu turut menyelam

Sama ukuran kecil, drone ini tak perlu kapal yang besar supaya bisa dioperasionalkan. Sebab asinnya air laut, karena itu komunikasi radio sangat susah di bawah laut. Karena itu, drone ini disambungkan dengan kabel ke arah pusat operator.

Salah satunya contoh drone ini ialah bikinan Deep Trackker. ROV Deep Trackker terhubung dengan kabel ke remot kendalian hingga bisa dikontrol dari darat atau saat menyelam ke bawah air. Bisa diubah, ROV itu bisa terpasang dengan mekanisme sonar hingga bisa menyaksikan ke perairan yang gelap atau kotor.

  1. Yellow Submarine dari Lockheed Martin

Bukan lagu The Beatles, “kapal selam mini” warna kuning namanya “Marlin” ini ialah autonomous underwater vehicle (AUV) produksi Lockheed Martin. Marlin bekerja untuk operasi terlepas pantai dan membenahi pipa bawah laut, perawatan yang bisa mengonsumsi ongkos sampai bermiliar-miliar dolar AS.

Dengan daya pemrosesan 4 kali bisa lebih cepat, Marlin bisa menyelam sampai ke kedalaman 300 mtr. untuk memetakan kedalaman secara 3D dalam hitungan waktu dan bertahan sampai 18 jam di bawah laut.

  1. Nereus, drone yang menyelam sampai Challenger’s Deep

Bila manusia tidak bisa menyelam ke perairan terdalam, karena itu drone ialah jalan keluarnya. Ditingkatkan oleh Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), Nereus ialah Hybrid ROV (HROV) yang populer sebab menyelam sampai ke kedalaman Challenger’s Deep di Palung Mariana, dekat Pulau Guam. Pada 2009, Nereus menyelam sampai pecahkan rekor dengan kedalaman 10.902 km. Semakin tinggi dari Gunung Everest!

Dengan kedalaman nyaris 9.900 km, Nereus dihancurkan dengan penekanan 16.000 psi. Masih optimis, WHOI mengharap Nereus bisa dipakai untuk menyelami susunan es di Kutub Utara. Seperti namanya, HROV Nereus bisa dipakai sebagai drone nirawak atau dihubungkan dengan kabel untuk ekspedisi jarak pendek.

  1. Wave Glider melalui laut lebih dari drone mana saja

Ditingkatkan oleh perusahaan Liquid Robotics dari California, Wave Glider sudah tempuh lebih dari 2,2 juta km! Drone ini terbagi dalam sebuah “papan selancar” dan “kapal selam” mini yang menggantung di bawah air sampai 8 mtr..

Seperti namanya, Wave Glider manfaatkan ombak air laut untuk melaut. Kecuali ombak, Wave Glider memakai tenaga surya, hingga ramah lingkungan. Dengan demikian, Wave Glider bisa dipakai untuk mengawasi ekosistem laut, pertahanan maritim, dan operasi minyak dan gas terlepas pantai.

  1. Slocum Glider, drone yang melalui samudera

Ditingkatkan oleh WHOI, nama “Slocum Glider” diilhami oleh Joseph Slocum, pria Kanada yang pertama kalinya melaut keliling dunia sendirian sepanjang tiga tahun (1895-1898). Dengan mengganti daya apung, Slocum Glider bisa bergerak secara horizontal dan vertikal. Karena itu, drone ini sangat bermanfaat untuk ambil contoh bawah laut, pengawasan ekosistem, dan pemantauan secara akustik dalam periode panjang.

Peranan glider di pengawasan bawah laut juga bisa dibuktikan pada 2016. Waktu itu, beberapa periset tangkap bunyi misteri di Palung Mariana. Umumnya periset bertaruh jika suara yang dipanggil “Biotwang” itu berawal dari paus minke/paus tombak. Menurutmu, suara apa ini?

  1. Drone Sirius AUV, drone yang memetakan bangkai kapal di dekat Pulau Antikythera, Yunani

Pengetahuan bawah laut manusia cuman seputar 10 %. Lantas, siapakah yang bertanggungjawab atas pengetahuan itu? Kecuali usaha manusia, drone yang memetakan landasan laut juga harus dikenang jasanya! Salah satunya drone yang berjasa ialah Sirius AUV.

Pada 2015, Sirius terhitung jadi salah satunya drone dari Sydney University yang mendapatkan peluang untuk menelusuri bangkai kapal di dekat Pulau Antikythera, Yunani. Situs itu ialah sumber dari harta karun “Proses Antikythera”, digadangkan sebagai computer analog pertama di dunia.

  1. Sinetron drone AS versus. Tiongkok di Laut China Selatan

Pada Desember 2016, kondisi di Laut China Selatan sempat menghangat saat Angkatan Laut Tiongkok mendapati sebuah glider bawah laut yang serupa dengan Slocum Glider punya AS! Peristiwa itu berjalan 160 km dari Filipina.

Waktu itu, kapal periset dan pemantauan laut asal AS, USNS Bowditch, berniat untuk ambil glider-nya yang berada di teritori Laut China Selatan. Rupanya, sebuah rakit dari Angkatan Laut Tiongkok ambilnya lebih dahulu, walau protes dari beberapa pelaut AS. Kementerian Pertahanan AS selanjutnya minta Tiongkok mengembalikannya.

Sempat dihiraukan, pada akhirnya Kementerian Pertahanan Tiongkok mengatakan jika mereka sudah kembalikan glider itu sekian hari sesudahnya.

  1. Drone pemburu ikan lepu di perairan Pasifik Barat

Ikan lepu (lionfish) sudah jadi salah satunya predator mematikan yang mengusik ekosistem perairan Samudera Pasifik Barat. Sebab memakan ikan, karena itu perkembangan ganggang makin banyak, hingga menghancurkan terumbu karang! Disamping itu, tidak diketemukan sistem efisien untuk mendesak lionfish yang tersebar di perairan laut dalam.

Karena itu, pada 2017, organisasi nirlaba Robots in Servis of the Environment (RSE) mengeluarkan kampanye tangkap lionfish dengan drone-nya, Guardian, dan membuatnya salah satunya bahan makanan di pasar seafood! Dikontrol dari jauh, satu Guardian bisa tangkap 10 lionfish yang dikalahkan dengan tegangan listrik.

  1. Kembali lagi, drone serupa pari dari Jerman, BOSS!

Mantabot dari Virginia memperoleh rintangan dari Jerman. Ditingkatkan semenjak 2013, Evologics, perusahaan di bagian robot luar angkasa dan bawah laut, meningkatkan drone UAV berupa manta ray. Drone itu ialah sisi dari projek “Bionic Observation and Survey Sistem” (BOSS).

Sama dengan Mantabot, sayap pada BOSS ialah kunci dari pergerakan manuver drone yang handal di laut terbuka atau di medan landasan laut sempit yang berlebihan. Disamping itu, BOSS diperlengkapi dengan jet penggerak untuk bergerak bisa lebih cepat! Sudah pasti, BOSS bisa dipakai untuk kepentingan komersial seperti menambang, riset ilmiah, pemantauan militer, sampai visi SAR.

  1. Drone dari Jerman yang ikuti pergerakan ubur-ubur, AquaJellies 2.0

Kecuali BOSS, perusahaan Jerman, Festo, tidak mau kalah! Tidak dari manta ray, Festo di inspirasi dari ubur-ubur. Dengan bekal ide itu, Festo meningkatkan “AquaJellies 2.0”. Yakinlah, saat menyaksikannya di bawah air juga, kamu kemungkinan menduga jika drone itu ialah ubur-ubur!

Pertama kalinya dikenalkan pada 2008 di Hanover dan lagi ditingkatkan pada 2013-2014, AquaJellies 2.0 bisa mengikuti pergerakan renang unik ubur-ubur. Disamping itu, drone ini bisa berbicara keduanya! AquaJellies 2.0 dapat kamu operasikan dari handphone. Dengan AquaJellies 2.0, Festo mengharap tehnologi pengawasan proses dan keadaan di air menjadi lebih canggih.